Kelurahan Pasar Padi

Kec. Girimaya
Kota Pangkalpinang - Kepulauan Bangka Belitung

Info
Ini contoh teks berjalan. Isi dengan tulisan yang menampilkan suatu ciri atau kegiatan penting di kelurahan anda.

Artikel

MENYELAMATKAN AIR UNTUK MENYELAMATKAN MASA DEPAN

Operator Kelurahan

23 Maret 2026

16 Kali dibuka

hari_air_sedunia

22 Maret diperingati sebagai Hari Air Sedunia yang saat ini, dunia memperingati hari tersebut sebagai pengingat akan krusialnya peran air bagi keberlangsungan hidup manusia dan peradaban, untuk meningkatkan kesadaran global akan pentingnya air bersih dan pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan. Peringatan ini menyoroti krisis air bersih, sanitasi, dan mengajak aksi nyata untuk menghemat serta menjaga kelestarian air untuk generasi masa depan.  Memaknai Hari Air Sedunia menjadi pengingat dan penyadaran bagi semua pihak guna melakukan refleksi, “sudahkah kita berlaku adil akan kelestarian air?”.

Air adalah sumber kehidupan, sehingga tanpanya, mustahil manusia, hewan, maupun tumbuhan bisa bertahan hidup. Sayangnya, ketersediaan air bersih di dunia semakin menipis akibat perubahan iklim, urbanisasi, dan eksploitasi berlebihan. Itulah mengapa, sekarang ini mulai banyak orang yang menggaungkan gerakan konservasi air.

Konservasi air ini bukan hanya tugas pemerintah atau perusahaan besar. Konservasi adalah tanggung jawab kita semua. Berbagai langkah sederhana, seperti menghemat penggunaan air di rumah sampai pengelolaan limbah cair di industri, semuanya punya peran tersendiri. Peringatan tahun 2026 menekankan pada sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dan air.

Di Indonesia, peringatan tahun 2026 ini mengusung tema "Kedaulatan Air untuk Ketahanan Nasional," yang mencerminkan komitmen kuat pemerintah dalam menjamin akses air bersih yang merata bagi seluruh lapisan masyarakat di 500 kota, didukung oleh infrastruktur otonom dengan standar Score 85.

Sederhananya, konservasi air adalah kunci penting dalam menjaga keberlanjutan hidup manusia dan lingkungan. Tanpa adanya konservasi, krisis air akan menjadi ancaman serius yang memengaruhi kesehatan, pangan, dan stabilitas sosial.

Air yang pada zaman dahulu kala merupakan sumber daya yang sangat melimpah dan dalam kualitas bagus, kini terancam ketersediaannya. Sudah saatnya kita membuka mata terhadap fakta memprihatinkan yang ada. Dalam “United Nations World Water Development Report 2018: Nature-based solutions for water” disebutkan bahwa saat ini, 1,9 miliar orang hidup di daerah yang mengalami kelangkaan sumber air. Pada tahun 2050, jumlah tersebut dapat meningkat hingga sekitar 3 miliar orang karena populasi penduduk dunia akan bertambah 2 miliar orang dan permintaan air secara global dapat mencapai 30% lebih tinggi dari hari ini.

Selain itu, sejak tahun 1900, lahan basah alami berkurang sebesar 64-71% akibat aktivitas manusia. Keberadaan lahan basah itu seperti sistem pembuluh darah yang menghubungkan seluruh bentang alam. Keberadaannya sangat penting. Tanpa lahan basah, dunia akan sangat kekurangan air. Lahan basah mencukupi kebutuhan air bersih. Lahan basah juga dapat diibaratkan sebagai spons raksasa yang dapat menyerap dan menyimpan air dari hujan yang sangat lebat, kemudian melepaskannya secara perlahan-lahan ke lingkungan sekitarnya.

Fakta-fakta tersebut seharusnya memicu untuk memperbaiki pola konsumsi air kita sehari-hari. Saatnya kita memperlakukan air sebagai harta yang berharga yang harus dijaga. Namun ada hal penting yang juga harus kita lakukan, yaitu memperbaiki akar permasalahannya. Sebagai sumber kehidupan, ketersediaan air tergantung pada sehat atau tidaknya kondisi alam. Saat ini, setidaknya 65% dari lahan hutan dalam kondisi terdegradasi (sumber: United Nations World Water Development Report 2018). Padahal, keberadaan pohon di kawasan sumber mata air sangat penting karena berfungsi sebagai penyerap air dan penyangga tanah. Dengan demikian, perlindungan sumber daya air dapat dilakukan secara berkelanjutan.

Melalui peringatan ini kita diingatkan dan diedukasi bahwa alam adalah jawabannya. Bila kita ingin terhindar dari krisis air, kita harus segera menyelamatkan alam. Beberapa solusi berbasis alam untuk membantu mengelola ketersediaan dan kualitas air dilakukan dengan cara memulihkan hutan, padang rumput dan lahan basah alami, menghubungkan kembali sungai ke dataran banjir (dataran luas yang berada di kiri kanan sungai yang terbentuk oleh sedimen akibat limpasan air sungai tersebut), serta menciptakan vegetasi penyangga di sepanjang aliran air. Selain mengembalikan keseimbangan siklus air, solusi berbasis alam tersebut juga dapat berdampak positif bagi kesehatan dan meningkatkan kesejahteraan.

Akhirnya, dengan upaya/langkah kecil kita bisa terlibat langsung menjaga kualitas air yang setiap hari dikonsumsi. Aksi nyata menyelamatkan dan melestarikan air dapat dilakukan dengan berbagai cara. Antara lain dengan memilah sampah, menggunakan air secukupnya, menanam pohon, menggunakan produk yang ramah lingkungan, tidak membuang sampah di air, menggunakan air bekas cucian beras/ sayur untuk menyiram tanaman dan mengedukasi orang-orang terdekat untuk menghargai air bersih. Langkah-langkah kecil ini akan memberi dampak yang luarbiasa jika dilakukan secara masal dan berkelanjutan. Jadi apa yang kamu tunggu? Mari bergerak bersama, demi kehidupan dan masa depan air yang lebih bersih dan sehat. Selamat Hari Air Sedunia…

Sumber:

 

Kirim Komentar

Nama
Telp./HP
E-mail

Komentar

Captha

CAPTCHA Image

Komentar Facebook

Aparatur Kelurahan

Plt Lurah

MAREO EBTANA, S.E

Sekretaris Lurah

MAREO EBTANA, S.E

Kepala Seksi Pemerintahan Ketentraman dan Ketertiban Umum

RIYANTO, S.AP

Kepala Seksi Kemasyarakatan dan Pelayanan Umum

SEPTA PUTRI, S.S

Staf Kelurahan

YULIA

Operator Layanan Operasional

HENY SARTIKA

Staf Kelurahan

SHANNIA MAHARANI, S.Pd

Kepala Seksi Pembangunan

ROZA MUSTIANA, S.Ikom

Satgas Smile

M. HASAN

Satgas Smile

ERWANSYAH

Satgas Smile

PERY

Satgas Smile

CANDRA SUTJINTO

Satgas Smile

EDI SALAM

Satgas Smile

SOBIRIN

Peta Lokasi Kantor Kelurahan